MAKALAH TEORI BELAJAR THORNDIKE PDF

Profesi pendidikan yang didalamnya terdapat proses pembelajaran mengandung kerangka pengetahuan teoritis yang didasarkan pada hasil pengetahuan yang disusun dari hasil penelitian dan pengalaman. Hubungan antara teori dan praktek menjadi semakin mantap dengan matangnya kajian keilmuan tertentu termasuk ilmu pendidikan. Teori terdiri dari konsep bangunan konstruk , prinsip, dan proposisi yang memperkokoh khasanah ilmu pengetahuan. Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan nyata dalam aktivitas menjalankan profesi.

Author:Nikogul Mikasar
Country:Paraguay
Language:English (Spanish)
Genre:Career
Published (Last):6 December 2014
Pages:479
PDF File Size:2.64 Mb
ePub File Size:8.50 Mb
ISBN:907-1-89354-768-3
Downloads:16200
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Goltirr



Profesi pendidikan yang didalamnya terdapat proses pembelajaran mengandung kerangka pengetahuan teoritis yang didasarkan pada hasil pengetahuan yang disusun dari hasil penelitian dan pengalaman. Hubungan antara teori dan praktek menjadi semakin mantap dengan matangnya kajian keilmuan tertentu termasuk ilmu pendidikan. Teori terdiri dari konsep bangunan konstruk , prinsip, dan proposisi yang memperkokoh khasanah ilmu pengetahuan.

Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan nyata dalam aktivitas menjalankan profesi. Praktek juga memberi kontribusi kepada pengetahuan teoritis melalui informasi yang didapat dari pengalaman.

Teori termasuk di dalamnya adalah ringkasan pernyataan yang melukiskan dan menata sejumlah pengamatan empirik. Rumusan inilah yang dipakai sebagai pegangan dalam mengembangkan kajian-kajian ilmu pengetahuan.

Sementara itu belajar mengandung konsep adalah perubahan yang relatif permanen atau perilaku potensial sebagai hasil dari pengalaman. Yang selanjutnya disebut dengan Thorndike saja.

Di sinilah minatnya yang besar timbul terhadap proses belajar, pendidikan, dan intelegensi. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen di Conecticut tahun , S2 dari Harvard tahun dan meraih gelar doktor di Columbia tahun Teori belajar thorndike menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.

Perubahan terjadi melalui rangsangan stimulans yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif respon berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat.

Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar puzzle box diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha —usaha atau percobaan-percobaan trials dan kegagalan-kegagalan error terlebih dahulu.

Disinilah sejumlah pakar menyatakan teori Thorndike ini dengan sebutan Instrumental Conditioning. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan teoritis yang cukup besar di dunia pendidikan inilah maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan [3].

Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Disinilah ditemukan konsep bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil.

Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan. Dalam membuktikan teorinya Thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh dalam kandang, yang mana kandang tersebut terdapat celah-celah yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makanan yang berada diluar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut.

Thorndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Thorndike memplokamirkan teorinya dalam belajar ia mengungkapkan bahwasanya setiap makhluk hidup itu dalam tingkah lakunya itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon.

Dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar. Adapun cara untuk membentuk hubungan stimulus dan respon ini dilakukan dengan ulangan-ulangan [4]. Dalam teori trial and error ini, berlaku bagi semua organisme dan apabila organisme ini dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis organisme ini memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau dapat juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya di setiap stimulus itu pasti ditemukan respon.

Apabila dalam tindakan-tindakan yang dilakukan itu menelurkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau memuaskan maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseorang atau organisme lainnya karena dirasa diantara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah itu.

Selama yang telah dilakukan dalam menanggapi stimulus dan situasi baru. Dengan demikian dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus atau situasi baru itu sangat penting. Dalam kondisi yang demikian seseorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus.

Agar dalam belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk memiliki kesiapan, baik fisik dan psikis. Siap fisik seperti seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang mana bisa mengganggu kualitas konsentrasi.

Adapun contoh dari siap psikis adalah seperti seseorang yang jiwanya tidak lagi terganggu, seperti sakit jiwa dan lain-lain. Disamping sesorang harus siap fisik dan psikis seseorang juga harus siap dalam kematangan dalam penguasaan pengetahuan serta kecakapan-kecakapan yang mendasarinya. Menurut Thorndike, ada beberapa kondisi yang akan muncul pada hukum kesiapan ini, diantaranya: pertama, jika ada kecenderungan untuk bertindak dan orang mau melakukannya, maka ia akan merasa puas.

Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Dan Ketiga, jika belum ada kecenderungan bertindak, namun ia dipaksa melakukannya, maka hal inipun akan menimbulkan.

Akibatnya, ia juga akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Teori koneksionisme [7] ini menyatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan membentuk asosiasi connection antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.

Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya [8]. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

Adapun latihan atau pengulangan prilaku yang cocok yang telah ditemukan dalam belajar, ini merupakan bentuk peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut agar tindakan tersebut semakin kuat Law of Use.

Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentrasfer pesan yang telah ia dapat dari sort time memory ke long time memory dibutuhkan pengulangan sebanyak-banyaknya dengan harapan pesan yang didapat tidak mudah hilang dari benaknya.

Adapun dalam percobaan Throndike pada seekor kucing yang lapar yang ditaruh dalam kandang, pertama-tama kucing tadi membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui pintu kandang tersebut dan untuk menemukan pintu tersebut membutuhkan pecobaan tingkah laku yang berulang-ulang dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan tingkah laku yang cocok, sehingga kucing tadi untuk keluar tidak membutuhkan waktu yang lama.

Prinsip utama belajar adalah latihan pengulangan , karena itu jika guru sering memberi latihan S dan siswa menjawabnya R , maka prestasi belajar siswa tentang pelajaran tersebut akan meningkat. Thorndike menyatakan bahwa pengulangan tanpa ganjaran tidak efektif, karena asosiasi S dan R hanya diperkuat jika diiringi ganjaran.

Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi yang merupakan perangsang dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan.

Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai. Dan Kedua, The Law of Disue: hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut [10]. Sedangkan tingkah laku yang tidak melahirkan kepuasan dalam menghadapi situasi dan stimulus maka respon yang seperti ini aka ditinggalkan selama-lamanya oleh pelaku.

Hal ini terjadi secara otomatis bagi semua binatang otomatisme. Hukum belajar ini timbul dari percobaan thorndike pada seekor kucing yang lapar dan ditaruh dalam kandang, yang ditaruh makanan diluar kandang tersebut tepat didepan pintu kandang.

Makanan ini merupakan effect positif atau juga bisa dikatakan bentuk dari ganjaran yang telah diberikan dari respon yang dilakukan dalam menghadapi situsai yang ada.

Thorndike mengungkapkan bahwa organisme itu sebagai mekanismus yang hanya bertindak jika ada perangsang dan situasi yang mempengaruhinya. Dalam dunia pendidikan Law of Effect ini terjadi pada tindakan seseorang dalam memberikan punishment atau reward [11]. Akan tetapi dalam dunia pendidikan menurut Thorndike yang lebih memegang peranan adalah pemberian reward dan inilah yang lebih dianjurkan. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa diperantarai pengartian.

Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis. Hukum ini menunjukkan bahwa jika suatu hubungan dapat dimodifikasi seperti hubungan antara stimulus dengan respon dan hubungan tersebut diikuti oleh peristiwa yang diharapkan maka kekuatan hubungan yang terjadi semakin meningkat.

Sebaliknya jika kondisi peristiwa yang tidak sesuai mengikuti hubungan tersebut, kekuatan hubungan yang terjadi makin berkurang. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum.

Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.

Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi respon selektif.

Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.

Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru yang bermanfaat dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama yang tidak bermanfaat [13]. Revisi Hukum Dalam perjalanan penyampaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain bahwa : 1. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.

Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.

Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. Ini adalah perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya. Prinsip-Prinsip Belajar Thorndike Pada saat seseorang berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon yang ia lakukan.

Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatkan respon atau tindakan yang cocok dan memuaskan. Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan prilaku anak yang kurang wajar.

Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat. Seperti orang yang dalam masa pekembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya dalam diri orang tersebut sudah menegetahui unsur yang penting yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.

Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka sudah barang tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakukan seperti dahulu yang ia lakukan. Aplikasi Teori Thorndike terhadap Pembelajaran Siswa Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori Thorndike aliran behavioral adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu: [15] Mementingkan pengaruh lingkungan.

Mementingkan bagian-bagian, Mementingkan peranan reaksi, Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon, Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya,. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan dan Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati, serta kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan.

Dimana perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai, mendapat penghargaan negatif. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.

EFECTO TYNDALL COLOIDES PDF

Teori Behavioristik Menurut Thorndike

Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Teori koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edwar L. Thorndike berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun an. Eksperimen ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.

CATALOGO AUTOMAGIC PDF

TEORI BELAJAR THORNDIKE

Nizwa Ayuni To get password just mention me on twitter nicuapz or leave comment on my blog. Latar belakang Masalah belajar adalah masalah yang selalu aktual dan selalu dihadapi oleh setiap orang. Belajar adalah dasar untuk memahami perilaku. Maka dari itu banyak ahli membahas dan menghasilkan berbagai teori tentang belajar. Dalam hal ini tidak dipertentangkan kebenaran setiap teori yang dihasilkan tetapi yang lebih penting adalah pemakaian teori — teori itu dalam praktek kehidupan Sehubungan dengan itu dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan salah satu usaha yang dilakukan adalah memahami bagaimana anak—anak belajar. Apakah perilaku yang menandakan bahwa belajar telah berlangsung pada diri mereka?

EH PH DIAGRAMS FOR GEOCHEMISTRY BROOKINS PDF

Biografi Thorndike Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun , S2 dari Harvard tahun dan meraih gelar doktor di Columbia tahun Teori Thorndike dalam Belajar Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan stimulans yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif respon berdasarkan hukum-hukum mekanistik Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus S dengan respon R. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang Thorndike memplokamirkan teorinya dalam belajar ia mengungkapkan bahwasanya setiap makhluk hidup itu dalam tingkah lakunya itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon adapun teori thorndike ini disebut teori koneksionisme. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Dalam artian dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbulah respon yang maksimal teori ini sering juga disebut dengan teori trial and error dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar.

HEJVUD POLITIKA PDF

Kegiatan belajar sangat dipengaruhi bermacam-macam faktor. Metode dan strategi belajar sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Keberhasilan siswa mencapai suatu tahap hasil belajar memungkinkannya untuk belajar lebih lancar dalam mencapai tahap selanjutnya. Mengajar tidak secara otomatis menjadikan siswa belajar. Seorang guru sebaiknya memiliki pola pembelajaran yang dapat menerangkan proses, menyebutkan dan menghasilkan lingkungan belajar tertentu sehingga siswa dapat berinteraksi yang selanjutnya berakibat terjadinya perubahan tigkah laku siswa secara khusus. Melalui pemahaman berbagai model pembelajaran yang banyak dikembangkan di kelas, seorang guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran lewat pemikiran di belakang meja sebelum yang bersangkutan menghadapi siswa. Model pembelajaran dapat membantu guru dalam penguasaan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan upaya mengubah tingkah laku siswa sejalan dengan rencana yang telah ditetapkan.

Related Articles